Advertisements

Club Motor Di Indonesia Itu Juga Warisan Belanda ??

2 09 2015

Nah gaess, mungkin sejarah club motor di negeri ini memang ada hubungannya dengan warisan kolonial Belanda, sedikit menghubungkan aja ada kemungkinan ada korelasi antara club motor jaman baheula sehingga mewaris hingga club motor jaman sekarang.

Pada tahun 1913 di tanah Hindia Belanda telah dibentuk “Motor Wielrijders Bond” atau (Persatuan pengendara sepeda motor), kelompok atau komunitas atau bisa dibilang club ini bahkan memiliki semacam buletin sendiri, buletin itu bernama “Magneet”,yang menggambarkan seputar kegiatan anggota club yang sering jalan jalan keliling daerah atau kalo sekarang disebut rolling atau touring.

Para elite yang kebanyakan berkebangsaan Belanda atau berdarah campuran Belanda ini biasanya memandang rendah Pribumi yang biasanya menggunakan kereta kuda maupun sepeda. Waktu itu Pribumi yang berkendaraan di jalanan modern (aspal) kebanyakan adalah mereka yang naik kereta ditarik binatang atau para pengendara sepeda. Jadi sepeda adalah simbol pembeda strata antara Pribumi dengan kalangan penjajah atau antara jelata dengan priyayi.

Ketika kaum elite kolonial sudah bermotor ria, kalangan priyayi jawa dan rakyat kebanyakan waktu itu masih hanya bermimpi bersepeda genjot, jangankan bisa memiliki sepeda motor,untuk mewujudkan mimpi memiliki sepeda pun butuh upaya keras. Karena harga sepeda waktu itu disebut masih sangat mahal ,yaitu setara dengan satu ons emas. Di kalangan masyarakat kebanyakan,sepeda masih menjadi idola bahkan masih menjadi simbol kemajuan jaman dan modernitas kala itu, sebagaimana digambarkan dalam kisah Haji Moechammad, sang pengusaha kopra dari Banten,yang mengubah pakaiannya dari jubah ke jas dan membeli sepeda untuk mengikuti kemajuan jaman ketika itu.

Kemungkinan sepeda onthel maupun sepeda motor masuk secara besar besaran di Hindia Belanda saat masa sekitar tahun 1918 – 1939, yaitu masa tenang berakhirnya perang dunia I sampai sebelum pecahnya perang dunia ke II, ini karena waktu itu perdagangan lancar, ekonomi stabil dan keamanan dalam pengiriman barang juga lancar. Pada masa itu di Hindia Belanda sudah terdapat kantor kantor dagang dari berbagai negara Eropa, mereka dapat memasarkan dagangan sepeda atau sepeda motor mereka di kota kota besar Indonesia seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan,Banjarmasin,Makasar dll. Pada waktu itu orang orang Indonesia sudah dapat bebas memilih dan membeli alat transportasi buatan Eropa maupun Amerika. Jejak jejak kebesaran kuda besi ini terlihat pada iklan iklan enamel kuno (plat besi berlapis cat enamel) yang tersebar di seluruh Indonesia yang banyak dijual oleh pedagang barang antik toko maupun online shop.

Iklan enamel tersebut dibuat pada sekitaran tahun 1930 – 1939, karena tahun ini terkenal sebagai masa boomingnya sepeda di Hindia Belanda, terutama di kalangan kelas menengah, sedangkan kalangan atas sudah lebih dulu menggunakan kendaraan bermotor.

11902572_1622992137968916_8730338493492954983_n

11873531_1622992091302254_3776095758095267705_n

11892226_1622992081302255_2126602295650821818_n

 

sumber : google

Advertisements

Actions

Information

2 responses

3 09 2015
Maskur

woooooooh
warisan landa to
ijin copas fotone

3 09 2015
demang soegax

yoiiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: